Proses Inkubasi Entrepreneruship Papua (1)

Minimarket PAPUAmart.com

Minimarket No. 01: PAPUAmart.com di Jl. Raya Sentani, Hawai No. 05

Ada sejumlah catatan tentang perbedaan inkubasi bisnis konvensional dengan yang diterapkan dalam PAPUAbank.com demi entrepreneurship di Tanah Papua oleh KSU Baliem Arabica lewat PAPUAmart.com. Praktek-praktek pendanaan bisnis oleh Bank, Koperasi dan Lembaga peminjaman tidak sama persis dengan apa yang berlaku dalam inkubasi entrepreneurship yang kami lakukan.

Kami sebagai orang Papua paham di mana kelemahan kami. Oleh karena itu kami berupaya menutupi kelemahan itu. Selanutnya memacu diri dalam rangka meraih cita-cita Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera, walaupun kami sadari tidak-lah mudah membangkitkan orang Papua, apalagi memandirikan untuk hidup sejahtera. Ia butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun.

1. Perbedaaan Pertama: Kami tidak Pakai “Modal Uang”, tetapi kami bergerak mulai dari “Modal Sosial”

Prinsip inkubasi bisnis kami bertabrakan langsung dengan Proses Bank Konvensional karena hal pertama kami tidak mendasarkan proses inkubasi atas modal usaha atau simpanan atau jamiman yang bernilai uang seperti tanah, bangunan, atau kendaraan. Yang kami jadikan sebagai dasar proses inkubasi ialah “Modal Sosial”.

Modal sosial yang kami maksudkan ialah (1) hubungan kekeluargaan, (2) hubungan kekerabatan dan (3) hubungan persaudaraan.

Hubungan kekeluargaan artinya ada hubungan darah langsung antara pengelola Koperasi Baliem Arabica, PAPUAmart.com dan pengelola Kios KKLingkar.com dengan calon entrepreneur yang bersangkutan.

Lalu fondasi hubungan kekerabatan artinya hubungan marga dan hubungan suku atau kekerabatan antara pengurus atau pemilik usaha yang sudah ada dengan calon yang hendak bergabung. Kemudian fondasi hubungan persahabatan didasarkan atas pertemanan, perkawinan, atau hubungan sosial lain seperti teman satu kesebelasan, teman sekolah, teman kantor dari pengusaha yang sudah ada dengan yang mau bergabung.

Modal Sosial ini menjadi fondasi utama dan pertama dalam memproses sebuah Kios KKLingkar.com atau sebuah minimarket PAPUAmart.com

Kami harus membatasi diri dengan persyaratan pertama dan utama ini karena sudah banyak badan, lembaga dan organisasi yang menjalankan bisnis dengan pendekatan, dasar bangunan yang konvensional, yaitu berdasarkan jaminan yang bernilai uang. Kami memberanikan diri menabrak bisnis yang berorientasi “uang” menjadi bisnis yang bermodalkan “sosial”, yaitu manusia Papua.

Menurut Jhon Kwano sebagai penggagas,

Kami memang sadar betul bahwa terobosan seperti ini mengandung resiko besar. Akan tetapi kami tidak bisa menunggu orang lain datang mengajar orang Papua untuk memacu diri. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah tinggal 3 bulan lagi, proses kebijakan pemerintah Provinsi dan Kabupaten masih jauh dari seharusnya. Jadi, kami sebagai pengusaha harus berjuang banting-tulang, sesuai talenda dan pengetahuan kami untuk memacu diri.

Lalu terkait dengan kelanjutan kegiatan seperti ini, Kwano menegaskan,

Kami tidak berharap bantuan dari siapapun. Sekali lagi, kami tidak butuh bantuan. Bantuan itu mengandung arti negatif, di mana yang diberi uang menjadi pihak yang lemah, tak berdaya, tidak punya kapasitas dan tidak produktif. Kami bukan demikian.

Kami hanya butuh suntikan dana berupa Dana Investasi dan Dana Modal Kerja. Kami harap pemerintah provinsi Papua dan provinsi Papua Barat dan Bank Papua melihat terobosan ini sebagai sebuah gebrakan untuk memacu ketertinggalan entrepreneurship di Tanah Papua.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *